Showing posts with label lalala :). Show all posts
Showing posts with label lalala :). Show all posts

Thursday, October 17, 2013

Seratus Empat Puluh Enam

Setitik air mata penuh cita jatuh dan melintas di wajah ini.
Secara sederhana merekahkan sebuah bunga yang sudah lama lelap dalam tidurnya.
Bukan sesuatu yang istimewa sebenarnya,
Hanya hal kecil yang barangkali semua manusia bisa melakukannya
Itu hanya sebuah kisah sebagai bentuk cinta saya pada kertas dan pena
Semakin disimak, semakin tak puas rasanya
Namanya juga manusia, ingin ini itu tak henti-hentinya

Seratus Empat Puluh Enam menjadi sebuah kisah pertama dalam hidup saya
Kisah pertama yang secara umum dapat dibaca dan tercetak secara nyata
Seratus Empat Puluh Enam kemudian membangkitkan apa yang sejenak terpejam
Menumbuhkan satu emosi tak terkendali untuk kembali pada kertas dan pena dalam semalam

Buku “Melipat Batas” merupakan sebuah buku kisah anak-anak Indonesia.
Secara sederhana memaparkan mimpi lama yang menjadi nyata
Seratus Empat Puluh Enam mungkin hanyalah kisah biasa dibandingkan kisah luar biasa lainnya
Namun haru rasanya berada di tengah mereka yang mampu menginspirasi anak muda Indonesia

Jika Anda datang ke toko buku dan melihat si “Melipat Batas”, nikmatilah.
Tatkala kisah Seratus Empat Puluh Enam tak istimewa,
Kisah lainnya bisa jadi merubah hidup pembaca ;)
Dapat ditemukan di toko buku terdekat !

"Melipat Batas" - Kumpulan Kisah Inspiratif Pemenang Beasiswa IELSP di Negeri Paman Sam

 *cheers!
Sarita :)

Thursday, May 23, 2013

Sebuah tulisan: Indah Dibalik Hujan


Aku terduduk merenung dengan secangkir kopi hangat di beranda kamar rumahku. Sudah kurang lebih tiga jam hujan turun dengan derasnya, seolah hadir melengkapi segala kegelisahan yang tengah berkecamuk dalam benak kecilku. Pandanganku kosong menatap sesuatu yang tak tampak di ujung batas garis pandang. Sesekali hujan yang turun terlihat seperti sedang menari karena dihembus angin. Sesekali pula senyumku hadir dan melesap dalam hitungan detik.

Di atas meja kecil disampingku, tergeletak ipod yang mengalunkan lagu “Quando, quando, quando” dari Michael Buble. Setelah satu tarikan nafas, akupun meneguk kopi hangat itu dan membiarkannya mengalir, menghangatkan tubuh yang sudah dibalut sweater kebesaran.

Tahukah kamu? Suasana itu adalah suasana yang sempurna atas apa yang dirasakan. Bisakah dibayangkan bahwa kini, aku sama dengan rintik air yang membasahi bumi saat ini. Terjatuh, terombang-ambing oleh angin saat hendak mencapai tanah air. Terlalu sama dengan yang lain sementara aku ingin menjadi rintik hujan yang berwarna-warni. Dan lihat pohon itu. Walaupun aku diombang-ambing angin, aku bersyukur bahwa aku masih berdiri dan belum sampai dititik kejatuhan. Seperti pohon tua itu, yang walaupun dihempas angin kencang, Ia masih berdiri gagah walau harus membiarkan beberapa daunnya gugur dan terbawa arus angin.

Hey, coba lihat langitnya! Mendung tak terkira. Kehilangan cahaya matahari sementara seolah tahu bahwa kini akupun tengah kehilangan cahaya yang serupa. Kupandangi pula anak kecil berkaki pincang di ujung komplek rumah ku yang buru-buru berlari pulang untuk mencari kehangatan dengan penuh perjuangan. Lamban, terseok-seok. Peluhnya menyatu dengan air hujan yang jatuh.Tak perduli sakit, yang Ia tahu Ia sampai di istana peristirahatannya.

Apa yang kulihat seolah mendeskripsikan hal-hal yang campur aduk dalam pikiranku kini. Tanpa arah. Berdiri di tempat. Terombang-ambing. Tak beridentitas.

Dan lihat! Hujan tiba-tiba saja berhenti. Si anak pincang menatap langit dan tersenyum senang. Pepohonan terlihat segar akibat sisa air seperti kristal diatas dedaunan. Matahari sedikit muncul dibalik awan yang perlahan-lahan membiru. Kopi hangat membawaku pada sebuah senyuman. Kalian tahu bagian paling indahnya? Selalu ada pelangi yang muncul setelah kelamnya suasanya hujan.



Meja kantor,
Selasa, 23 April 2013
11:33 AM

Sedikit cuap tentang Hari Bumi


Hari Bumi. Jika banyak orang mengatakan “selamat” saat Hari Bumi, saya lebih suka menjadikan Hari Bumi sebagai peringatan kepada seluruh manusia. Melihat kondisi alam bumi yang kini sudah tak sama lagi dengan dulu, tinggal tugas manusia lah untuk menjaganya semaksimal mungkin dengan kondisi yang ada sekarang sehingga tidak menjadi lebih buruk. Saya sih tidak muluk-muluk, let’s just start from the most simple things, sampah.

Sering terlihat betapa mudahnya orang-orang meletakkan bungkus permen atau tissue atau sampah kecil lainnya di sembarang tempat. Katanya, “ah..ini kan sampah kecil”. Dan kalau saja ada 1000 orang di Jakarta yang berpikiran sama, maka terkumpullah 1000 sampah kecil yang nyatanya jadi tidak ‘kecil’. Itu baru 1000, belum lagi lebih. Apalagi kalau di hitung se Indonesia. Okay, that’s just my simple thought.

Saya pun melakukan sedikit research di beberapa website mengenai hal ini. Menurut sebuah artikel di Okezone.com yang muncul pada tahun 2012, disebutkan bahwa kira-kira jumlah sampah di Jakarta mencapai 6.500 ton per hari. Sementara di artikel lainnya, disebutkan bahwa masih ada sekitar 2000 M3 sampah yang belum terangkut di Jakarta. Bahkan disebutkan bahwa kira-kira penduduk Jakarta bisa membangun 1 candi borobudur dari sampah setiap 2 hari. Jadi, tak heran jika Jakarta mengalami masalah dengan kebanjiran dengan salah satu penyebabnya, sampah.

Melihat kondisi Jakarta yang seringkali banjir di musim hujan, saya pun tidak menanggapinya secara repot. Bagi saya, banjir di Jakarta itu adalah kombinasi antara daerah serapan yang kurang akibat pembangunan, tata kota yang kurang rapi dan (lagi-lagi) sampah. Maka, saya sebagai warga semaksimal mungkin menjaganya dengan tidak membuang sampah sembarangan. Kalau pemikiran di paragraf atas kita putar balikkan, ada 1000 orang di Jakarta yang berpikiran sama dengan saya, mudah-mudahan Jakarta jadi lebih terjaga dan terbebas dari sampah.

So, jadikan Hari Bumi sebagai media instrospeksi terutama warga Jakarta untuk lebih sadar dan peduli terhadap lingkungan. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, mari kita mulai dari membuang sampah pada tempatnya!

*cheers!

Sarita :)

Sebuah kutipan dari Moammar Emka :)


Dear you, cinta dan kejatuhannya

Jatuh cinta dan patah hati itu memang pasangan serasi.

Ketika kita jatuh karena patah hati, 
cinta menautkannya kembali.

Ketika jatuh dan patah, 
bersyukurlah kita masih punya cinta dan hati.

Ketika kita tak punya cinta dan hati, 
bersiaplah untuk jatuh dan patah.

Cinta tanpa hati, tak mungkin. 
Pasti jatuh dan patah sebelum waktunya.

Cinta dengan hati meniadakan kejatuhan dan patahnya fondasi kebersamaan.

Cinta dan hati lah pasangan sejati.


*A write from Dear You - Moammar Emka*


Friday, November 4, 2011

Dreams



Dalam hati aku mencari-cari potensi
Potensi diri yang menjadikan hidup jadi seni
Seni ini bukan seni standar di tepi-tepi
Melainkan seni tingkat tinggi tak tertandingi.

Saat aku menyadari kehadirannya dalam jiwa
Aku menepi, memusatkan segala tenaga sejauh raga mampu berusaha
Totalitas diatas segalanya
Kerikil dan batu tajam sudah biasa, telan saja bak sebuah pizza

Tak perduli aku terlihat seperti orang tak punya kehidupan
Jauh daripada itu, mimpi adalah pemeran
Untuk bisa menikmati sebuah durian,
Seseorang melampaui durinya, baru manyantap daging buahnya kemudian

Untuk apa hanya bisa menatap iri?
Lebih baik berjalan sekalipun menginjak duri perih-perih
Jadikan mereka yang lebih baik sebagai cermin diri
Guna memotivasi aku yang nyaris mati

Ya, aku MATI tanpa MIMPI


Ruang tamu, 4 November 2011
Hanya berkata-kata,oleh Sarita :)

Thursday, September 22, 2011

A poem : dedicated for you :)

Saya membuka kembali dokumen-dokumen dalam laptop dan menemukan sebuah puisi yang dulu pernah saya buat. Puisi ini menggambarkan kebahagiaan dan rasa terharu saya setelah saya bertemu anak-anak yang luar biasa di sebuah rumah singgah pada  sekitar tahun 2007. Kegiatan berkunjung kerumah singgah itu memiliki banyak kesan dan memberi banyak pelajaran dalam hidup saya. Tidak hanya membuka mata saya tentang dunia anak-anak, kehidupan anak jalanan, tetapi juga pada kegiatan inilah saya mendapatkan kesempatan pertama saya untuk menjadi ketua panitia pelaksana dalam sebuah kegiatan organisasi dan sosial. Saya belajar begitu banyak hal yang hingga sekarang, seluruh hal yang saya dapat pada hari itu, dengan jelas masih membekas dan bermanfaat dalam  kehidupan saya di masa ini.


Learn from yesterday, live for today, hope for tomorrow. The important thing is not to stop questioning. 
Albert Einstein 





Ini adalah lantunan kata-kata untuk kalian :



Kami larut dalam kebersamaan sejenak itu,

Seakan lupa bahwa kami baru saja saling mengenal,

Seakan lupa bahwa surya kan tertutupi awan kelabu,

Seakan lupa segala-galanya..




Senandung kalian sampai pada hatiku,


Sampai pada titik disaat aku harus meneteskan buliran itu.

Sampai pada nurani yang terdalam sekalipun,


Sampai hatiku tlah terkalahkan..



Tawa kami melebur menjadi satu,

Tawa bersama yang murni dari hati,

Tawa bersama yang membentuk dunia sesaat milik kita,

Tawa kebahagiaan..



Sentuhan tangan mungil mereka menyeru sesuatu pada hatiku,

Menyerukan bahwa mereka menerima ku dalam sudut lembar fikirannya,


Akankah aku kembali menangis?
Ya..

Kalian memberikan banyak pelajaran dalam hidupku

dan hanya sebuah senandung sederhana tulus dari kami untuk kalian


Terima kasih, telah mengajariku makna kebahagiaan yang sesungguhnya..




Special thanks : seluruh Penegak Gugusdepan Syailendra, Keluarga besar rumah singgah 

dan untuk kalian ..

kakak - adik yang memanggil namaku saat aku meninggalkan rumah singgah dan memberikan sebuah kuncir rambut manis untukku. Kalian memberikan kebahagiaan ekstra untuk semuanya :)

Friday, December 17, 2010

Topi


Topi yang kubeli itu berkisah. Mencoba bicara melalui apa yang dialaminya. Mengajariku membuka mata atas dunia yang tak mudah.



            Aku membelinya. Kombinasi warna membuatku terpaku saat pertama aku melihatnya. Entah kenapa, kebahagiaan muncul saat aku sadar bahwa topi itu akan ada dalam hari-hariku.



            Aku memakainya. Saat aku tengah berjalan menuju sekolah, hujan turun membajiri kota. Aku berlari dengan sang topi yang bertengger di atas kepalaku. Topi itu melindungi kepalaku.



            Aku melihatnya. Pak Tua itu tengah menengadah di tengah hujan. Bukanlah uang atau sepotong roti yang ia dapatkan,  hanya rintikkan hujan yang menggenang di atas telapak tangannya. Aku berhenti sejenak untuk menatap sosok rapuhnya. Yang terlihat bukan kepura-pura-an. Melainkan kesungguhan. Aku melepas topi itu. Memakaikannya di atas kepala Pak Tua yang sudah mulai botak dan penuh rambut putih. Pak Tua tersenyum. Sedikit lindungan dari hujan membuatnya sedikit lebih tenang. Aku merelakan topi itu dan berlari mengejar waktu.



            Aku memikirkannya. Topi itu membuat ku tidak dapat berpikir jernih selama pelajaran berlangsung. Topi itu akan kuambil. Itu yang terlintas.



            Sepulang sekolah, aku berjalan menuju ke tempat Pak Tua terduduk. Aku bertanya padanya mengenai topiku, mungkin terjatuh saat saya hendak beli minum..Adik mau?



            Topi itu ada. Kebahagiaan menerpaku. Kutengerkan kembali topi itu di pucuk kepalaku. Dan berjalan menuju istanaku.



            Ia mengikutiku. Seorang anak kecil berjalan dibelakangku. Lusuh sekali pakaiannya. Dan ia terus menatapnya. Menatap topiku.

           

            Gadis itu memintanya. Berkata bahwa ia tak punya cukup uang untuk membeli hadiah untuk kakaknya. Orang tuanya telah tiada. Dan lagi-lagi aku melepas topi itu dari kepalaku. Memberikannya pada si gadis malang berhati mulia. Ia pun tersenyum lebar. Sambil memeluk topi itu, ia berlari ke arah angin.



            Ternyata sang kakak merasa kesal pada sang adik dan mengembalikan topi itu kepadaku dua hari kemudian. Aku yang merasa kehilangan merasa sangat terhibur saat tau topi itu akan kembali kesisiku. Topi itu tampak dekil dan lusuh..



            Topi itu sudah kucuci. Bersih dan wangi. Hingga akhirnya seorang anak laki-laki yang begitu tampan berkata bahwa ia menyukainya. Namun kali ini, aku tak bermaksud untuk menyerahkannya.



            Ternyata anak itu sungguh gigih. Setiap hari datang ke rumahku hanya untuk melihat si topi. Dan tanpa sadar, anak itu mulai mengisi hari-hariku. Aku begitu menyayanginya..



            Hingga suatu hari ia tak muncul jua. Aku merasa kesepian..



            Dua hari kemudian, sosoknya kembali hadir. Wajahnya yang pucat kembali mengemis meminta topi. Aku sayang padanya. Aku sayang pada topiku. Dan akupun menyatukan rasa itu menjadi satu. Topi itu kuberikan..



            Anak itu memelukku. Menangis atas rasa bahagia yang dirasakannya. Aku balas memeluknya. Memeluk ia dan memeluk topiku. Kami melewati hari bersama. Anak itu tertidur di pangkuanku. Aku membelai rambut hitamnya. Menikmati tiap detikku bersama dengannya.



            Malam tiba. Anak itu pasti dicari orang tuanya. Aku menggoyangkan tubuh mungilnya yang masih memeluk si topi. Ia tak bergerak. Ia terus terpejam. Saat aku tersadar, oh tidak...ia melepas nyawanya...



            Aku menangis sambil memeluknya. Sembari teringat akan setiap caranya yang lucu untuk terus melihat topiku..



            Kali ini, aku merelakan dua hal. Tidak hanya kepergian anak itu, tapi juga topiku. Aku menyerahkan topi itu pada orang tuanya dan berkata, “banyak hal yang menjadi pelajaran bagiku. Topi ini bukan topi biasa. Ia bertindak. Ia mengajariku. Biarlah topi ini kuberikan. Kurasa ia butuh teman sekaligus pelindung di dunia maya...”

Wednesday, December 15, 2010

Sherry dan lilin

Sherry duduk dalam kegelapan. Melihat ke kiri, ke kanan, tak tampak apapun. Sewarnapun. Sesuatupun. Ruangan itu bukan hall tempat orang kaya berpesta pora. Hanya ruangan sempit berdinding kayu beralas tikar. Tak siang, tak malam. Gelap. Hanya ada Sherry yang terkadang tersenyum, kemudian menangis. Suara jangkrik dan burung hantulah yang menemaninya melewati malam. Tak lupa sebuah lilin besertanya.

Seperti biasa, Sherry mengeluarkan sebatang lilin dari kantungnya. Ia coba dirikan lilin itu, tapi selalu saja jatuh. Ia dirikan, jatuh. Ia tertawa, Ia dirikan lagi, jatuh lagi, berdiri, jatuh, tawa, berdiri, jatuh, tawa, berdiri, jatuh, tawa, DIAM… Sherry terdiam. Melihat lilin jatuh, sungguh bagai Ia melihat dirinya sendiri. Muak Ia rasa.

Lelah, Ia raih sekotak korek api. Ia buka kotaknya, Ia ambil sebatang, Ia goreskan di tepi kotaknya. Ia gores, api menyala, tertiup angin, padam. Ia tertawa lagi. Telah terbiasa, Ia gores untuk kesekian kali, api menyala, dengan sigap Ia lindungi sang api dari hantaman angin yang masuk seenak hati lewat lubang ventilasi. Sherry menahan napas untuk beberapa detik dan api tetap tetap berkobar. Ia tersenyum.

Kini, tangan kirinya menggenggam sebatang lilin yang cacat tak dapat berdiri, di tangan kanan Ia pegang sebatang korek dengan api berkobar diujungnya. Perlahan, Ia satukan ujung sumbu lilin dengan yang korek api dengan api putus asa berkobar diujungnya. Mata Sherry tak bisa lepas dari prosesi penyatuan tersebut. Bola matanya bergerak seiring menjalarnya api di sumbu lilin. Dalam hitungan detik, api sudah berkobar di atas lilin. Member sedikit pancaran kehangatan dan cahaya. Itu Sherry. Wajahnya kusut tak keruan, rambutnya kasar dan berantakkan, tubuhnya mungil, kurus tak terurus. Kaos yang dikenakan seadanya. Lubang dimana-mana, kotor tak pernah dicuci bersih. Celananya? Sebuah celana pendek yang sangat amat pendek. Alas kaki? Lupakan. Tak pernah Ia kenakan alas kaki, Ia biarkan saja kaki luka tergores kerikil, hangus diatas panas, kuman beranak pinak dan orang bilang, Sherry telah gila.

Mata Sherry masih tajam menatap kobaran api. Tetap menggenggam sebatang lilin, Ia biarkan lelehannya jatuh di punggung telapaknya. Perih. Panas. Tapi Sherry bukan manusia lemah. Ia kukuh.

Waktu terus berputar. Lilin terus meleleh dan semakin pendek setiap detik. Tess…lelehan jatuh, Sherry meringis. Tess…meringis, tess…meringis, tess tess tess..terus meringis. Hingga kulitnya hitam di satu sisi akibat lelehan yang jatuh secara beraturan pada tempat yang sama. Hebatnya, mata Sherry tetap kukuh, menatap kobaran api yang melahap batang lilin seiring waktu.

Lilin sudah setengah. Suara jangkrik dan burung hantu semakin lantang terdengar. Sherry menitikkan air mata pertamanya malam itu. Hancur sudah hati dan pikirannya membayangkan hari-harinya di dunia. Mereka bilang, Sherry gila. Tapi Sherry tidak gila. Ia tahu Ia tidak gila. Yang Ia tidak tahu adalah mengapa orang-orang memandang dirinya penuh hina, mengapa anak-anak kecil senang menghujamnya dengan dengan bebatuan, mengapa orang takut saat Ia tengah berlenggok di tengah jalan, mengais sampah, mengeruk tanah dengan kuku-kukunya, tertawa, lalu menangis….lalu DIAM. Kini, Sherry meraung, air matanya terus keluar, genggamannya mengencang hingga meninggalkan bekas kuku di tubuh lilin. Namun matanya, tetap mata yang kukuh.

Ah…lilin semakin pendek, tinggal 1 cm lagi dari kulit tangan terluarnya. Diluar kebiasaannya, Ia pindahkan lilin itu ke tangan kanan. Sambil tersenyum, Ia celupkan tangan kirinya ke dalam baskom yang berisi sebuah cairan. Minyak tanah. Bau semerbak minyak menjalar kehidungnya, menembus hingga ke paru-parunya. Tertawa. Ia pindahkan lagi lilin itu ke tangan kirinya yang basah berlumur minyak.

Burung hantu bersuara semakin keras. Jangkrik semakin ribut. Sherry tertawa, tertawa, meringis, meringis, tertawa seiring lilin yang terus meleleh, meleleh, hingga sang api menyentuh telapaknya yang berlumuran minyak.

Mata Sherry tetap kukuh, memandang api yang kini terbagi dari sumbu lilin ke punggung tangannya. Sang api bak siap melahap lahan yang baru saja Ia hinggapi, asik bermain-main dan bergoyang diatasnya. Kini, tubuh Sherry berguncang hebat. Sambil terus menangis dan tertawa secara bersamaan, Ia ambil sisa minyak yang ada.

Sherry bersimpuh, mengubur dalam setiap lembar gelap dalam hidupnya sementara api terus bermain di tangannya. Ia tundukkan kepalanya, air matanya terus menetes, bibirnya terus tersenyum, matanya tetap kukuh. Dengan ringan, Ia tuangkan sisa minyak keseluruh tubuhnya..dan DIAM. Api menjalar cepat bak melahap setiap sisi tubuh Sherry. Habis sudah, bersama kelam hidupnya, sakit hatinya, ketidakanggapannya dan tetap dengan kekukuhan matanya, dalam api putus asa…

Monday, November 29, 2010

Running

Setapak demi setapak Ia hentakan kedua telapak kakinya di tanah yang cukup keras. Nafasnya memburu seiring suara angin yang timbul akibat adanya gerakan yang dinamis dan bertempo cepat . Kedua matanya tajam. Tak sedikitpun menunjukkan adanya kesedihan ataupun kebahagiaan, hanya sedikit obsesi dan banyak optimis disana. Ia tak perduli lagi biar ribuan mata menatapnya. Tak perduli lagi dengan tangisan seorang anak di pinggir jalan ataupun suara pilu seorang pengemis meminta sejumput nasi. Ia hanya terus berlari. Tubuhnya jelas sudah basah kuyup. Kaos tanpa lengan yang dikenakannya basah dan diyakini hanya ada sidikit bagian yang tak terkena keringatnya. Celana pendek nya pun turut basah. Ini bukan sebuah kebodohan. Ini bukan tanpa arti. Ini adalah interpretasi.

Tengah menikmati deru angin dan kecepatan yang sulit untuk dihentikan, ada banyak hal yang menembus kosentrasinya. Hal-hal yang mampu membuatnya ingin berlari lebih kencang. Ingin menjelajah lebih banyak tempat. Ingin melihat dunia lebih luas. Perlu diingatkan bahwa ini bukanlah suatu adegan dalam Forrest Gump, namun bisa dibilang, terinspirasi.

Cinta adalah yang utama. Ia ingin mencari cinta. Bukan berarti hidupnya kurang akan kasih dan cinta manusia. Ia punya cukup. Bahkan lebih dari cukup. Dengan berlari menjelajah , Ia mendapati dirinya tahu jenis-jenis cinta. Ciri-ciri cinta. Wujud dari cinta yang berbentuk abstrak namun terpancar dari manusia . Bisa dilihat dari mata. karena mata memiliki sejuta makna.

Berlari merupakan wujud visinya untuk memacu diri sendiri. Manusia terlahir tidak sempurna. Dengan berlari,Ia mendapati dirinya untuk lebih tangguh menghadapi setiap rintangan. Ia tahu bagaimana menyesuaikan diri sesuai kondisi. berlari merupakan salah satu jalan untuk mempelajari medan kehidupan. Bagaimana mengahadapi jalanan yang mulus saja, berpasir, atau berbatu bahkan lembap, licin. Tidak mudah untuk menjaga keseimbangan tubuh dalam kondisi lelah dan medan yang berubah-ubah disetiap tempat. Ia terapkan hal itu dalam hidup.

Bahkan baginya, berlari merupakan latihan tersenyum. Ia mendapati dirinya tetap bisa tersenyum dibalik semua kelelahan yang ia dapat . dibalik semua luka yang didapatnya akibat jatuh ataupun sekedar terpeleset karena perubahan medan tadi.dan Ia berhasil.

Dan Ia mendapati, bahwa berlari bukanlah sekedar mengenai tenaga, olahraga ataupun kecepatan. Namun juga nilai-nilai kehidupan..


thanks for reading. =) any comments will be pleasure.