Showing posts with label inspiring things. Show all posts
Showing posts with label inspiring things. Show all posts

Wednesday, May 28, 2014

Are you dare enough?


"Here's to the crazy ones. The misfits. The rebels. The troublemakers. 
The round pegs in the square holes. The ones who see things differently. 
They're not fond of rules. And they have no respect for the status quo. 
You can quote them, disagree with them, glorify or vilify them. 
About the only thing you can't do is ignore them. Because they change things.
 They push the human race forward. While some may see them as the crazy ones, we see genius. Because the people who are crazy enough to think they can change the world are the ones who do."

-Steve P.Jobs-

Rangkaian kalimat diatas merupakan penutup dari sebuah buku biografi Steve Jobs yang ditulis oleh Patricia Lakin, dengan judul, "Thinking Differently". Saya sendiri memaknai kisah Steve Jobs yang menurut saya cukup 'gila' sebagai sebuah inspirasi. Bagaimana Ia memandang hidup dan menghabiskan nyaris seluruh waktunya untuk melakukan sesuatu menggunakan hatinya.

Tepat setelah saya selesai membaca buku ini, keesokan harinya saya makan siang dengan seorang rekan kerja yang tepat pada hari itu menjadi hari terakhirnya bekerja. Kami menghabiskan waktu istirahat dengan obrol-obrolan yang bisa dianggap sebagai curhat. Akhirnya, Ia menceritakan alasan jelas mengapa Ia memutuskan untuk mengundurkan diri. Lengkap dengan setitik airmata dan seluruh rasa yang campuraduk tak jelas bentuknya.

Saya menyimak setiap kalimat yang terucap dari mulutnya dan memutuskan untuk memberikan sebuah tepukan meriah di dalam hati sambil berkata, "You've chose it right!". Kenapa? Karena membuat sebuah keputusan itu tak pernah mudah. Pastinya melalui masa pertimbangan yang panjang, nasihat kiri-kanan, struggling antara kebutuhan dan keinginan. Pernah mengalami hal yang sama, saya mengakui bahwa memilih antara kebutuhan dan keinginan adalah salah satu hal tersulit yang pernah ada.

Saya menepuk pundaknya dan berkata "Itu pilihan yang tepat". Melihat keberaniannya untuk memilih, saya pun teringat dengan sepotong kalimat Steve Jobs yang Ia sampaikan dalam pidatonya untuk Stanford University:

"Remembering that I'll be dead soon is the most important tool 
I've ever encountered to help me make the big choices in life...
Remembering that you are going to die is the best way I know 
to avoid the trap of thinking you have something to lose..
There is no reason not to follow your heart.
Your time is limited, so don't waste it living someone else's life."

Bahkan Steve Jobs berkata bahwa di pagi hari seringkali Ia berdiri di cermin dan bertanya pada dirinya sendiri, "Jika hari ini adalah hari terakhir saya hidup, apakah saya ingin jadi saya yang sekarang?". Jika hatinya berkata 'tidak', maka sesuatu dalam hidupnya harus dirubah. Entah kenapa, kisah tersebut terus menempel di benak saya. Kembali mengingatkan diri saya akan hal-hal yang ingin saya lakukan dan mimpi-mimpi saya yang belum tercapai. Steve Jobs pun cukup 'memukul' saya hingga akhirnya saya ingat bahwa saya punya banyak mimpi yang harus diraih. I'm on my way!

Saya pun membagi kisah Steve Jobs tersebut pada teman tersebut semata-mata untuk meyakinkan dia bahwa memilih untuk apa yang inginkan tak pernah salah, apapun resikonya. I've been there before, exactly the same feeling. Saat saya membutuhkan waktu nyaris 3 bulan hanya untuk membuat satu buah keputusan. Saat banyak orang memberikan nasihat yang cukup bertentangan dengan keputusan saya sementara minoritas lainnya mengacungkan jempolnya sebagai wujud apresiasi atas usaha saya untuk memilih. Well, pada akhirnya, walaupun saya mengabaikan nasihat-nasihat bijak yang hilir-mudik di telinga saya, termasuk orangtua saya sendiri, saya tidak pernah menyesal dengan keputusan saya. Kalau dipikir-pikir, I just did what Steve P Jobs did! I do follow my heart and it feels amazingly great!

Kehidupan terus berputar dan jarum menit tak pernah diam di angka yang sama. Saat manusia memilih, maka akan ada pilihan-pilihan lainnya lagi yang kerap kali datang. Setiap memilih, akan terlihat sejauh mana kita memperjuangkan prinsip tersebut. Kemudian, sejauh mana saya mampu memperjuangkan daftar mimpi yang tercatat jelas dalam Dream Board saya dan serentetan pilihan lainnya di benak saya? Tak bisa dipungkiri, di sudut hati saya yang paling dalam, saya masih bergelut dengan dua kata: kebutuhan atau keinginan.

Steve P. Jobs membuktikan pada dunia, well setidaknya pada diri saya, bahwa Ia berhasil memperjuangkan 'keinginan' hingga akhir hidupnya. Walaupun banyak resiko yang harus ditanggung, pada akhirnya Steve Jobs melengkapi kebutuhannya dengan melakukan segala yang Ia inginkan. Sounds great, huh?

Seluruh rangkaian kisah ini kemudian menimbulkan satu pertanyaan di benak saya yang hingga detik ini jawabannya masih jadi misteri untuk diri saya sendiri: 
"So, how far will I go for doing something that I really want?". 


-END-

*lil notes:
  Silakan tanyakan pertanyaan terakhir tersebut pada diri kalian.
  Did you find out your the answer? ;)

Here I am, write and share.
*cheers!!

Sarita :)
  

Thursday, October 17, 2013

Seratus Empat Puluh Enam

Setitik air mata penuh cita jatuh dan melintas di wajah ini.
Secara sederhana merekahkan sebuah bunga yang sudah lama lelap dalam tidurnya.
Bukan sesuatu yang istimewa sebenarnya,
Hanya hal kecil yang barangkali semua manusia bisa melakukannya
Itu hanya sebuah kisah sebagai bentuk cinta saya pada kertas dan pena
Semakin disimak, semakin tak puas rasanya
Namanya juga manusia, ingin ini itu tak henti-hentinya

Seratus Empat Puluh Enam menjadi sebuah kisah pertama dalam hidup saya
Kisah pertama yang secara umum dapat dibaca dan tercetak secara nyata
Seratus Empat Puluh Enam kemudian membangkitkan apa yang sejenak terpejam
Menumbuhkan satu emosi tak terkendali untuk kembali pada kertas dan pena dalam semalam

Buku “Melipat Batas” merupakan sebuah buku kisah anak-anak Indonesia.
Secara sederhana memaparkan mimpi lama yang menjadi nyata
Seratus Empat Puluh Enam mungkin hanyalah kisah biasa dibandingkan kisah luar biasa lainnya
Namun haru rasanya berada di tengah mereka yang mampu menginspirasi anak muda Indonesia

Jika Anda datang ke toko buku dan melihat si “Melipat Batas”, nikmatilah.
Tatkala kisah Seratus Empat Puluh Enam tak istimewa,
Kisah lainnya bisa jadi merubah hidup pembaca ;)
Dapat ditemukan di toko buku terdekat !

"Melipat Batas" - Kumpulan Kisah Inspiratif Pemenang Beasiswa IELSP di Negeri Paman Sam

 *cheers!
Sarita :)

Thursday, May 23, 2013

Sebuah tulisan: Indah Dibalik Hujan


Aku terduduk merenung dengan secangkir kopi hangat di beranda kamar rumahku. Sudah kurang lebih tiga jam hujan turun dengan derasnya, seolah hadir melengkapi segala kegelisahan yang tengah berkecamuk dalam benak kecilku. Pandanganku kosong menatap sesuatu yang tak tampak di ujung batas garis pandang. Sesekali hujan yang turun terlihat seperti sedang menari karena dihembus angin. Sesekali pula senyumku hadir dan melesap dalam hitungan detik.

Di atas meja kecil disampingku, tergeletak ipod yang mengalunkan lagu “Quando, quando, quando” dari Michael Buble. Setelah satu tarikan nafas, akupun meneguk kopi hangat itu dan membiarkannya mengalir, menghangatkan tubuh yang sudah dibalut sweater kebesaran.

Tahukah kamu? Suasana itu adalah suasana yang sempurna atas apa yang dirasakan. Bisakah dibayangkan bahwa kini, aku sama dengan rintik air yang membasahi bumi saat ini. Terjatuh, terombang-ambing oleh angin saat hendak mencapai tanah air. Terlalu sama dengan yang lain sementara aku ingin menjadi rintik hujan yang berwarna-warni. Dan lihat pohon itu. Walaupun aku diombang-ambing angin, aku bersyukur bahwa aku masih berdiri dan belum sampai dititik kejatuhan. Seperti pohon tua itu, yang walaupun dihempas angin kencang, Ia masih berdiri gagah walau harus membiarkan beberapa daunnya gugur dan terbawa arus angin.

Hey, coba lihat langitnya! Mendung tak terkira. Kehilangan cahaya matahari sementara seolah tahu bahwa kini akupun tengah kehilangan cahaya yang serupa. Kupandangi pula anak kecil berkaki pincang di ujung komplek rumah ku yang buru-buru berlari pulang untuk mencari kehangatan dengan penuh perjuangan. Lamban, terseok-seok. Peluhnya menyatu dengan air hujan yang jatuh.Tak perduli sakit, yang Ia tahu Ia sampai di istana peristirahatannya.

Apa yang kulihat seolah mendeskripsikan hal-hal yang campur aduk dalam pikiranku kini. Tanpa arah. Berdiri di tempat. Terombang-ambing. Tak beridentitas.

Dan lihat! Hujan tiba-tiba saja berhenti. Si anak pincang menatap langit dan tersenyum senang. Pepohonan terlihat segar akibat sisa air seperti kristal diatas dedaunan. Matahari sedikit muncul dibalik awan yang perlahan-lahan membiru. Kopi hangat membawaku pada sebuah senyuman. Kalian tahu bagian paling indahnya? Selalu ada pelangi yang muncul setelah kelamnya suasanya hujan.



Meja kantor,
Selasa, 23 April 2013
11:33 AM

Sebuah kutipan dari Moammar Emka :)


Dear you, cinta dan kejatuhannya

Jatuh cinta dan patah hati itu memang pasangan serasi.

Ketika kita jatuh karena patah hati, 
cinta menautkannya kembali.

Ketika jatuh dan patah, 
bersyukurlah kita masih punya cinta dan hati.

Ketika kita tak punya cinta dan hati, 
bersiaplah untuk jatuh dan patah.

Cinta tanpa hati, tak mungkin. 
Pasti jatuh dan patah sebelum waktunya.

Cinta dengan hati meniadakan kejatuhan dan patahnya fondasi kebersamaan.

Cinta dan hati lah pasangan sejati.


*A write from Dear You - Moammar Emka*


Sunday, July 22, 2012

Indonesian Day di Arizona State University

Rasa nasionalis atau kecintaan kita terhadap Indonesia bisa dengan mudah dilihat saat Indonesia tengah berlaga di kompetisi-kompetisi tingkat internasional seperti AFF atau Uber-Thomas Cup. Kalau Indonesia tengah berlaga, saya merasakan aura yang berbeda karena mendadak seluruh warga memilih untuk menghabiskan waktu menonton pertandingan, menggunakan baju merah timnas di tempat umum, bahkan jumlah supporter yang luar biasa penuhnya saat saya menyaksikan pertandingan final AFF yang lalu di Gelora Bung Karno, Jakarta. Berada di tengah lautan merah putih dalam stadion, rasanya istimewa. Luar biasa. Apalagi saat menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama. Lantangnya luar biasa. Tetapi, begitu pertandingan berakhir, orang-orang kembali pada kesibukkan masing-masing. Perlahan aura nasionalis itu memudar. Sebenarnya nasionalis yang dirasakan itu memang hanya sekedar kalau sedang berprestasi saja, atau memang ada di dalam diri kita?

Bagi saya, nasionalis muncul saat saya berada di negeri orang. Saat saya dan 19 teman lainnya mendapatkan kesempatan belajar di Arizona, US, merupakan pengalaman tak terlupakan. Selain saya mendapatkan ilmu tentang Amerika, waktu yang saya habiskan disana membuat saya kemudian menyadari bahwa Indonesia adalah negara yang luar biasa. Saya memang tidak membawa keterampilan tarian, permainan alat musik tradisional ataupun keterampilan khas Indonesia lainnya. Sejujurnya, sebelum saya menjejakkan kaki di Arizona, saya sama hal nya dengan masyarakat lain yang antusias saat Indonesia berprestasi kemudian masa bodoh setelah hal itu berlalu. Namun, pengalaman ini membuat saya kemudian mendadak jatuh cinta pada negara ini. Terlepas dari segala kekurangannya, saat saya berada di negeri orang, kangen luar biasa sama Indonesia rasanya susah unuk ditahan. Mungkin perasaan ini juga dirasakan oleh ratusan bahkan ribuan orang Indonesia lainnya yang pernah atau sedang berada di luar negeri.

Saya dan 19 orang-orang luar biasa lainnya merancang pembuatan Indonesian Day sejak dari sebelum keberangkatan kami ke Arizona. Jujur (lagi), awalnya saya menjadikan Indonesia Day ini sebagai tradisi karena melihat angkatan sebelumnya membuat kegiatan yang sama. Melihat teman-teman lainnya siap dengan keterampilan khas Indonesia nya, saya cukup minder melihat saya tidak membawa keterampilan apapun. Lantas, satu-satunya keterampilan yang saya bawa ialah keterampilan organisasi. Saya pun dipercaya teman-teman dan kemudian berkontribusi dalam kegiatan ini sebagai event coordinator.

Indonesian Day merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk memperkenalkan kayanya Indonesia akan keanekaragaman. Hal ini didukung dengan anak-anak yang berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia; Barat, Tengah, dan Timur. Sedemikian rupa kami ber-20 merancang kegiatan ini didukung dan dibantu oleh Permias (Indonesia Student Association). Kami saling berbagi tugas dan yang paling penting berlatih tiada henti. Keinginan kami untuk menampilkan yang terbaik membuat kami terpacu untuk berlatih. Tidak ada perjalanan yang tak berbatu. Well,pembuatan acara ini berjalan tidak mulus. Hambatan secara teknis ataupun sedikit slek disana-sini menjadi hal yang wajar dan saya rasa terjadi di setiap proses pembuatan suatu acara. Namun pada akhirnya acara ini dapat dilaksanakan dan masalah-masalah tersebut perlahan-lahan terselesaikan. Secara resmi, acara ini pun dilaksanakan di Farmer Education Building Arizona State University pada tanggal 20 April 2012.


Kegiatan ini dilaksanakan dengan beragam pertunjukkan dari mulai tarian, nyanyian, fashion show hingga lomba-lomba 17-an. Tarian yang ditampilkan antara lain: Tari Topeng, Tari Indang dan Tari Cakaiba. Selain tarian, adapun lagu-lagu tradisional berbahasa daerah antara lain: seroja, rek ayo rek, dan yamko rambe yamko. Lomba-lomba yang kami selenggarakan ialah lomba-lomba 17-an yaitu lomba makan kerupuk dan lomba sendok kelereng. Tak lupa adanya penampilan pencak silat dan perkenalan budaya Indonesia dalam sesi fashion show yang menampilkan 20 peraih beasiswa dari Indonesia dengan menggunakan 20 baju adat yang berbeda, merepresentasikan daerah masing-masing. Fashion show ini lengkap dengan adanya iringan lagu daerah dengan slide show mengenai keistimewaan daerah masing-masing.

Bagi saya, keindahan yang luar biasa terletak pada saat kami menyanyikan Indonesia Raya. Perasaan saya saat itu campur aduk. Bahagia, bersyukur, terharu, dan bangga dalam waktu yang bersamaan. Saya,masih dengan amat jelas, melihat kurang lebih 150 audience yang terdiri dari orang-orang Indonesia di Arizona dan tamu asing yang terdiri dari guru, staf dari AECP, hostfamily ataupun mahasiswa ASU lain. Masih jelas saya bisa melihat orang-orang Indonesia berdiri dengan gagah dan ikut bernyanyi bersama kami dengan lantang. Khidmatnya luar biasa, keheningan pecah akan kata dalam irama lagu Indonesia Raya ditengah gedung Farmer Education yang semi-outdoor. Saya rasa, disitulah titik dimana kemudian saya jatuh cinta luar biasa pada Indonesia. Bisa jadi, hal ini juga terjadi pada 19 sahabat lainnya juga.

Momen luar biasa lainnya ada pada saat penutupan, yaitu lagu Indonesia Jaya. Saat perancangan acara, saya bersemangat menyarankan untuk menyanyikan lagu ini kepada teman-teman lain. Kenapa? Karena saya bisa merasakan indahnya lagu ini setiap kali saya dan teman-teman paduan suara di kampus menyanyikan lagu ini. Simpel, saya ingin menampilkan keindahan yang sama di dunia internasional. Benar saja, walaupun tidak ada pembagian suara dan tidak didukung teknik vokal yang istimewa, penampilan saat itu tidak kalah indah dengan tampil bersama paduan suara. Susah payah saya menahan rasa terharu setiap kami berlatih lagu ini di sela-sela kesibukkan belajar di Arizona State University. Lagu ini mengingatkan saya untuk kembali bersyukur dan bersyukur. Bersyukur bahwa saya mendapatkan kesempatan emas ini, bersyukur bahwa saya berhasil menginjak tanah Amerika, bersyukur bahwa saya orang Indonesia...

Melihat penghayatan dan kesungguhan teman-teman berlatih setiap hari, we've been through a lot together. Pada akhirnya, di tengah keanekaragaman, di akhir acara ini, dengan alunan gitar akustik, bersama-sama kami bernyanyi lagu Indonesia Jaya dengan segenap hati dan bergandengan tangan. Luar biasa rasanya saya melihat 20 orang dengan 20 kostum yang berbeda tengah bergandengan tangan dan berbaur jadi satu. Dengan jelaspun saya melihat satu persatu wajah warga Indonesia lainnya yang menetap di Arizona melepaskan senyum simpul dan menyiratkan ekspresi "Saya orang Indonesia dan bangga akan hal itu".

Selepas acara, kami melakukan evaluasi singkat. Evaluasi berlangsung cukup emosional namun pada akhirnya itu menjadi titik bahwa kami jadi lebih menyatu dan memahami antara satu dan yang lainnya. Terlebih, seusai evaluasi, kami mendapatkan begitu banyak respon positif atas kegiatan tersebut dan senang rasanya melihat bahwa kini semakin banyak orang asing yang 'menyadari' kehadiran Indonesia dengan keanekaragaman dan keindahan.

Berikut adalah foto-foto yang menggambarkan suasana berlangsungnya acara pada saat itu:

 Latihan tiada henti, dimanapun, kapanpun ;)

 Tari Topeng

Pencak Silat Asad



Tari Cakaiba 

Tari Indang

Lomba makan kerupuk

Lomba balap sendok kelereng

Kemeriahan penutupan acara

Saya pun kini menganggap Indonesian Day ini tidak lagi sebagai suatu tradisi sebagai peraih beasiswa IELSP. Tetapi, lebih kepada kesadaran bahwa  Indonesia adalah negara yang kaya dan beragam. Kegiatan ini menjadi kontribusi kami kepada tanah air, Indonesia. Respon positif dari para pengunjung membuat kami merasa bahagia dan bangga karena telah memperkenalkan apa yang Indonesia miliki di dunia internasional. 

Terima kasih saya ucapkan pada tim kami yang luar biasa, yang terdiri atas 20 anak muda Indonesia. Terima kasih pada permias, keluarga besar Indonesia di Arizona, Amy (koordinator kelompok kami), dan seluruh pihak terkait yang membantu berlangsungnya acara hingga selesai. Terima kasih pada seluruh penonton yang hadir dan menikmati suguhan sederhana selama 2 jam yang sarat akan nilai budaya. Mudah-mudahan kegiatan ini mampu menginspirasi anak muda Indonesia lainnya atau siapapun yang mampir dan membaca tulisan ini. 

Mari lestarikan kembali budaya Indonesia.
'Masak' hingga matang budayanya. 
'Suguhkan' baik secara domestik atau internasional.
Bersiap untuk jatuh cinta (kembali) dan terus cinta ditengah keragaman dan perbedaan :)
Here I am, write and share :D

Sarita




Thursday, September 22, 2011

A poem : dedicated for you :)

Saya membuka kembali dokumen-dokumen dalam laptop dan menemukan sebuah puisi yang dulu pernah saya buat. Puisi ini menggambarkan kebahagiaan dan rasa terharu saya setelah saya bertemu anak-anak yang luar biasa di sebuah rumah singgah pada  sekitar tahun 2007. Kegiatan berkunjung kerumah singgah itu memiliki banyak kesan dan memberi banyak pelajaran dalam hidup saya. Tidak hanya membuka mata saya tentang dunia anak-anak, kehidupan anak jalanan, tetapi juga pada kegiatan inilah saya mendapatkan kesempatan pertama saya untuk menjadi ketua panitia pelaksana dalam sebuah kegiatan organisasi dan sosial. Saya belajar begitu banyak hal yang hingga sekarang, seluruh hal yang saya dapat pada hari itu, dengan jelas masih membekas dan bermanfaat dalam  kehidupan saya di masa ini.


Learn from yesterday, live for today, hope for tomorrow. The important thing is not to stop questioning. 
Albert Einstein 





Ini adalah lantunan kata-kata untuk kalian :



Kami larut dalam kebersamaan sejenak itu,

Seakan lupa bahwa kami baru saja saling mengenal,

Seakan lupa bahwa surya kan tertutupi awan kelabu,

Seakan lupa segala-galanya..




Senandung kalian sampai pada hatiku,


Sampai pada titik disaat aku harus meneteskan buliran itu.

Sampai pada nurani yang terdalam sekalipun,


Sampai hatiku tlah terkalahkan..



Tawa kami melebur menjadi satu,

Tawa bersama yang murni dari hati,

Tawa bersama yang membentuk dunia sesaat milik kita,

Tawa kebahagiaan..



Sentuhan tangan mungil mereka menyeru sesuatu pada hatiku,

Menyerukan bahwa mereka menerima ku dalam sudut lembar fikirannya,


Akankah aku kembali menangis?
Ya..

Kalian memberikan banyak pelajaran dalam hidupku

dan hanya sebuah senandung sederhana tulus dari kami untuk kalian


Terima kasih, telah mengajariku makna kebahagiaan yang sesungguhnya..




Special thanks : seluruh Penegak Gugusdepan Syailendra, Keluarga besar rumah singgah 

dan untuk kalian ..

kakak - adik yang memanggil namaku saat aku meninggalkan rumah singgah dan memberikan sebuah kuncir rambut manis untukku. Kalian memberikan kebahagiaan ekstra untuk semuanya :)

Thursday, March 24, 2011

love thingy

Today, I've heard many stories about love journey and they're not easy. Well, that's love, you won't always get the sweet part. I'm thinking once again about the word called 'love' and hell, you won't never find the best word to describe it yet the closest.

The things that I have to realize are : 
One, do not let love makes you totally blind. It'll make you blind but please, do not make you have a total blind. If you do, then you'll feel hurt just like falling from the highest place in the world.

Two, trust is the most important key in your relationship. When you never trust your partner, you hurt yourself. Just get ready for more tears.
Three, for woman, it's never been easy to forget someone that she care and love, but it's easy for dumping someone who's love her 'till death. Woman is kinda unpredictable, sometimes.

Four, never hear the third party if you sure that woman/man is totally crazy! If you do, then you just the same as her/him.

Five, the length of your relationship isn't guarantee your married life. Just believe that there's a kind of destiny.

Well, I'm writing this without feeling such a pro about relationship. I'm just write about my thought after I heard some of my friends stories about their love life. If you do agree or disagree, it's all up to you. A comment will be nice :) *share your thought if you want!

Monday, March 7, 2011

Everyone is a leader

Go to the people. Learn from them. Live with them.
Start with what they know. Build with what they have. The best of leaders when the job is done, when the task is accomplished, the people will say we have done it ourselves.
Lao Tzu

To do great things is difficult; but to command great things is more difficult.
Friedrich Nietzsche

I really have no experience for a year leading an organization. I tought it will be hard and it is. But nothing is easy in this world, isn't it? So I'm trying to be positive and claimed this position as a chance for myself. A chance to learn more and know people more. At first, I was looking for some advice about being a year leader from everyone who has the same experience. Then I've got the best advice so far and wanna share it to you. Hope, his word can be inspiring too for you..


"A new leader has to be able to change an organization that is dreamless, souless and visionless,, Make a 'wake up' call is the first thing to do. Then your task is to get your people from where they are to where they have not been. Keep learning: learn silence from the talkative, tolerant from the intolerant, and kindness from the unkind. The best way to lead people, walk beside them... As for best leaders, his/her people do not notice their existence... In a matter of style, swim with the current, but in matter of principles, stand like a rock.
Finally,, when your actions inspire others to dream more, learn more, and become more,, you are a leader."

LEAD YOUR LIFE ! :D

note: terima kasih buat Kak Yongki (a.k.a Bapak ) yang udah kasih advicenya yaa :)

Friday, February 4, 2011

Recipe

Take one single thirty-one-year-old female
Add one teaspoon of uncertainty and whisk
Add two tablespoon of bad news
One big decision
300 fairy cakes
One smile and a couple of blushes
A handful of memories
One kiss - add more if desired
A sprinkling of jealousy
Gently fold in some hope
Five heaped teaspoons of tears
865 mince pies and two Christmas wishes

Mix all the ingredients together. bake for 365 days

(taken from: a novel: Sugar and Spice by Jules Stanbridge

Thursday, November 11, 2010

Who Packs your Parachute ?

Charles Plumb was a U.S. Navy jet pilot in Vietnam. After 75 combat missions, his plane was destroyed by a surface-to-air missile. Plumb ejected and parachuted into enemy hands. He was captured and spent 6 years in a communist Vietnamese prison. He survived the ordeal and now lectures on lessons learned from that experience.

One day, when Plumb and his wife were sitting in a restaurant, a man at another table came up
and said, You're Plumb! You flew jet fighters in Vietnam from the aircraft carrier Kitty Hawk. You were shot down!

How in the world did you know that? asked Plumb. I packed your parachute, the man replied.
Plumb gasped in surprise and gratitude. The man pumped his hand and said, I guess it worked!
Plumb assured him, It sure did. If your chute hadn't worked, I wouldn't be here today.

Plumb couldn't sleep that night, thinking about that man. Plumb says, I kept wondering what he might have looked like in a Navy uniform: a white hat, a bib in the back, and bell-bottom trousers. I wonder how many times I might have seen him and not even said 'Good morning, how are you?' or anything because, you see, I was a fighter pilot and he was just a sailor. Plumb thought of the many hours the sailor had spent on a long wooden table in the bowels of the ship, carefully weaving the shrouds and folding the silks of each chute, holding in his hands each time the fate of someone he didn't know.
Now, Plumb asks his audience, Who's packing your parachute? Everyone has someone who provides what they need to make it through the day. Plumb also points out that he needed many kinds of parachutes when his plane was shot down over enemy territory - he needed his physical parachute, his mental parachute, his emotional parachute, and his spiritual parachute. He called on all these supports before reaching safety.
Sometimes in the daily challenges that life gives us, we miss what is really important. We may fail to say hello, please, or thank you, congratulate someone on something wonderful that has happened to them, give a compliment, or just do something nice for no reason.


taken from : www.yourlifehappiness.com .

Monday, November 8, 2010

The story of two teardrops

Two little teardrops were floating down the river of life. One drop said to the other, "I am the teardrop of a girl who loved a man and lost him." Who are you? "Well, I am the teardrop of the girl who won him."

Love is very strange. Love is unconditional commitment to an imperfect individual. You need it but when you love, it's like destining yourself for pain. You become addicted and dependent on the person. You become strong and at the same time, you open yourself up to being hurt. Love can make you bear any kind of pain and any kind of sacrifice. It can also make you feel stupid and act stupidly. Sometimes when you love and end up giving so much of yourself, subconciously you only discover how much you've given when the person you love hurts you or has to say goodbye.

Then you realize, an important part of yourself is already with that person. It goes away when he leaves and you are left with a sickening, empty feeling inside.

Tears are bound to shed from your eyes no matter how you force yourself to keep them in. Most teardrops ever shed on this earth have been for love or lack of it. When tears dry, a silent loss sticks to your heart for a long, long time.

Well, that's what you get for caring so much about someone. But how can you regret it? To give yourself freely and lovingly is the most beautiful thing you can do. Loving makes you real. Loving also makes you cry. And that is why a teardrop is also BEAUTIFUL.


this story taken from :

http://www.gagirl.com/stories/twoteardrops.html

A cry for Help

Once upon a time, there was an island where all the feelings lived: Happiness, Sadness, and all of the others, including Love.

One day it was announced to the feelings that the island would sink, so all repaired their boats and left.

Love was the only one who stayed. Love wanted to persevere until the last possible moment.

When the island was almost sinking, Love decided to ask for help.

Richness was passing by Love in a grand boat. Love said, "Richness, can you take me with you?" Richness answered, "No I can't..There is a lot of gold and silver in my boat. There is no place for you here."

Love decided to ask Vanity, who was also passing by in a beautiful vessel, "Vanity, please help me!" "I can't help you Love. You are all wet and might damage my boat," Vanity answered.

Sadness was close by so Love asked for help, "Sadness let me go with you." "Oh...Love, I am so sad that I need to be by myself!"

Happiness passed by Love too, but she was so happy that she did not even hear when Love called her!

Suddenly, there was a voice, "Come Love, I will take you." It was an elder. Love felt so blessed and overjoyed that he even forgot to ask the elder her name.

When they arrived at dry land, the elder went her own way. Love, realizing how much he owed the elder, asked Knowledge, another elder, "Who helped me?"

"It was Time," Knowledge answered.

"Time?" asked Love. "But why did Time help me?

Knowledge smiled with deep wisdom and answered, "Because only Time is capable of understanding how great Love is.


http://www.gagirl.com/stories/acryforhelp.html