Showing posts with label daily and a thought. Show all posts
Showing posts with label daily and a thought. Show all posts

Wednesday, May 28, 2014

Are you dare enough?


"Here's to the crazy ones. The misfits. The rebels. The troublemakers. 
The round pegs in the square holes. The ones who see things differently. 
They're not fond of rules. And they have no respect for the status quo. 
You can quote them, disagree with them, glorify or vilify them. 
About the only thing you can't do is ignore them. Because they change things.
 They push the human race forward. While some may see them as the crazy ones, we see genius. Because the people who are crazy enough to think they can change the world are the ones who do."

-Steve P.Jobs-

Rangkaian kalimat diatas merupakan penutup dari sebuah buku biografi Steve Jobs yang ditulis oleh Patricia Lakin, dengan judul, "Thinking Differently". Saya sendiri memaknai kisah Steve Jobs yang menurut saya cukup 'gila' sebagai sebuah inspirasi. Bagaimana Ia memandang hidup dan menghabiskan nyaris seluruh waktunya untuk melakukan sesuatu menggunakan hatinya.

Tepat setelah saya selesai membaca buku ini, keesokan harinya saya makan siang dengan seorang rekan kerja yang tepat pada hari itu menjadi hari terakhirnya bekerja. Kami menghabiskan waktu istirahat dengan obrol-obrolan yang bisa dianggap sebagai curhat. Akhirnya, Ia menceritakan alasan jelas mengapa Ia memutuskan untuk mengundurkan diri. Lengkap dengan setitik airmata dan seluruh rasa yang campuraduk tak jelas bentuknya.

Saya menyimak setiap kalimat yang terucap dari mulutnya dan memutuskan untuk memberikan sebuah tepukan meriah di dalam hati sambil berkata, "You've chose it right!". Kenapa? Karena membuat sebuah keputusan itu tak pernah mudah. Pastinya melalui masa pertimbangan yang panjang, nasihat kiri-kanan, struggling antara kebutuhan dan keinginan. Pernah mengalami hal yang sama, saya mengakui bahwa memilih antara kebutuhan dan keinginan adalah salah satu hal tersulit yang pernah ada.

Saya menepuk pundaknya dan berkata "Itu pilihan yang tepat". Melihat keberaniannya untuk memilih, saya pun teringat dengan sepotong kalimat Steve Jobs yang Ia sampaikan dalam pidatonya untuk Stanford University:

"Remembering that I'll be dead soon is the most important tool 
I've ever encountered to help me make the big choices in life...
Remembering that you are going to die is the best way I know 
to avoid the trap of thinking you have something to lose..
There is no reason not to follow your heart.
Your time is limited, so don't waste it living someone else's life."

Bahkan Steve Jobs berkata bahwa di pagi hari seringkali Ia berdiri di cermin dan bertanya pada dirinya sendiri, "Jika hari ini adalah hari terakhir saya hidup, apakah saya ingin jadi saya yang sekarang?". Jika hatinya berkata 'tidak', maka sesuatu dalam hidupnya harus dirubah. Entah kenapa, kisah tersebut terus menempel di benak saya. Kembali mengingatkan diri saya akan hal-hal yang ingin saya lakukan dan mimpi-mimpi saya yang belum tercapai. Steve Jobs pun cukup 'memukul' saya hingga akhirnya saya ingat bahwa saya punya banyak mimpi yang harus diraih. I'm on my way!

Saya pun membagi kisah Steve Jobs tersebut pada teman tersebut semata-mata untuk meyakinkan dia bahwa memilih untuk apa yang inginkan tak pernah salah, apapun resikonya. I've been there before, exactly the same feeling. Saat saya membutuhkan waktu nyaris 3 bulan hanya untuk membuat satu buah keputusan. Saat banyak orang memberikan nasihat yang cukup bertentangan dengan keputusan saya sementara minoritas lainnya mengacungkan jempolnya sebagai wujud apresiasi atas usaha saya untuk memilih. Well, pada akhirnya, walaupun saya mengabaikan nasihat-nasihat bijak yang hilir-mudik di telinga saya, termasuk orangtua saya sendiri, saya tidak pernah menyesal dengan keputusan saya. Kalau dipikir-pikir, I just did what Steve P Jobs did! I do follow my heart and it feels amazingly great!

Kehidupan terus berputar dan jarum menit tak pernah diam di angka yang sama. Saat manusia memilih, maka akan ada pilihan-pilihan lainnya lagi yang kerap kali datang. Setiap memilih, akan terlihat sejauh mana kita memperjuangkan prinsip tersebut. Kemudian, sejauh mana saya mampu memperjuangkan daftar mimpi yang tercatat jelas dalam Dream Board saya dan serentetan pilihan lainnya di benak saya? Tak bisa dipungkiri, di sudut hati saya yang paling dalam, saya masih bergelut dengan dua kata: kebutuhan atau keinginan.

Steve P. Jobs membuktikan pada dunia, well setidaknya pada diri saya, bahwa Ia berhasil memperjuangkan 'keinginan' hingga akhir hidupnya. Walaupun banyak resiko yang harus ditanggung, pada akhirnya Steve Jobs melengkapi kebutuhannya dengan melakukan segala yang Ia inginkan. Sounds great, huh?

Seluruh rangkaian kisah ini kemudian menimbulkan satu pertanyaan di benak saya yang hingga detik ini jawabannya masih jadi misteri untuk diri saya sendiri: 
"So, how far will I go for doing something that I really want?". 


-END-

*lil notes:
  Silakan tanyakan pertanyaan terakhir tersebut pada diri kalian.
  Did you find out your the answer? ;)

Here I am, write and share.
*cheers!!

Sarita :)
  

Tuesday, April 1, 2014

Frozen : Disney that I miss!

http://cdn.culturemass.com/wp-content/uploads/2013/12/Frozen-Cover-622x401.jpg 

Seperti yang mungkin saja dialami banyak pecinta Disney di luar sana, saya gak mau kalah dengan keponakan saya yang berusia 3 dan 4 tahun. Belakangan, saya lagi demam Frozen, sebuah film karya Disney yang berkisah tentang hubungan kakak-beradik. Sebenarnya, bisa dibilang saya termasuk telat nonton film ini, tapi ternyata efeknya jauh lebih panjang dari banyak orang. Tidak hanya jalan ceritanya yang masih melekat di kepala saya, tapi juga lagu-lagu hits nya. 

Well, sebenarnya ada beberapa alasan kenapa Frozen sampai detik ini masih nempel di kepala saya. Alasan utamanya, as I mentioned on this blog post title, Frozen is a Disney movie that I miss! Bisa dibilang, saya tumbuh dengan karya Disney, lagu-lagu Disney, konsep bermimpi-nya Disney dan selalu berpegang teguh dengan kata-kata "Never Too Old For Disney". Sebenarnya, sampai dengan sebelum munculnya Frozen, begitu banyak film karya Disney yang keluar di pasaran. Untuk film animasi yang mengusung tema kerajaan dan putri, sebut saja The Princess and The Frog dan Tangled. Tapi ternyata kedua film itu hanya sampai pada tahap fair menurut pendapat saya. 

Nah, film Frozen akhirnya memberikan sesuatu yang saya rindukan dari film-film hits terdahulu Disney seperti Aladdin ataupun Beauty and The Beast. In my opinion, gaya dialog serta segi musikal film Frozen sama 'hidupnya' dengan Aladdin. Where I can find a stunning scene with the best song. Jika Aladdin, salah satu animasi Disney kesukaan saya, punya adegan A Whole New World - where a stunning scene get along with the hit song, maka Frozen punya adegan Let It Go. Entah kenapa, rasanya saat melihat adegan Frozen saat Elsa menyanyikan lagu Let It Go, sama dengan saat saya memutar kembali adegan Aladdin saat Al dan Jasmine menyanyikan lagu A Whole New World.

Saking demamnya saya dengan Frozen ini, saya pun langsung beraksi menjelajahi youtube untuk menelisik lebih dalam serta melihat-lihat many kinds of version dari soundtracknya. Berikut adalah video-video, baik versi cover ataupun versi original dari 3 lagu soundtrack Frozen favorit saya: Let it Go, Do You Wanna Build A Snowman? dan For The First Time in Forever :)

LET IT GO

ORIGINAL MOVIE VERSION (IDINA MENZEL)


BEST COVER VERSION
BY ALEX BOYE (AFRICAN VERSION)


25 LANGUAGES-VERSION


KOREAN VERSION (AILEE & HYORIN DUET)




DO YOU WANNA BUILD A SNOWMAN?

ORIGINAL MOVIE VERSION


ACOUSTIC COVER VERSION BY JUNIEL



FOR THE FIRST TIME IN FOREVER

ORIGINAL VERSION


Berdasarkan yang saya baca di International Business Times, kini film Frozen berhasil membalap film Toy Story 3 dan naik ke peringkat 10 dalam "Top Ten Highest Grossing Movies of All Time" versi Box Office Mojo dengan urutan sebagai berikut:

1. Avatar - $2,782.3
2. Titanic - $2,186.8
3. Marvel's The Avengers - $1,518.6
4. Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2 - $1,341.5
5. Iron Man 3 - $1,215.4
Transformers: Dark of the Moon - $1,123.8
7. Lord of the Rings: The Return of the King - $1,119.9
8. Skyfall - $1,108.6
9. The Dark Knight Rises - $1,084.4
10. Frozen - $1,072.4
I can't wait to see Frozen live either in Disney Live or Disney On Ice yang selalu dihadirkan di Jakarta setiap tahunnya. Kalau one day Frozen hadir di Disney on Ice Jakarta, itu pasti jadi tontonan wajib! (walaupun sebenarnya tanpa Frozen pun tiap tahun nonton).
Sekian postingan kali ini seputar film Frozen. Postingan ini murni pendapat saya, didukung oleh youtube.com dan au.ibtimes.com .


*cheers! 
(REMEMBER! never too old for Disney!)

Sarita :)

Monday, October 7, 2013

Sebenarnya, Ada Apa Dengan Menulis?



Bulan September menjadi bulan pertama saya melalui hari-hari tanpa ngantor setelah resmi resigned.  Tak terasa, sebulan telah lewat dan melangkah menuju bulan Oktober. Pada awalnya, saya menduga akan tiba hari-hari membosankan tanpa kegiatan. Namun nyatanya, memang tak seburuk apa yang sayang bayangkan sebelumnya. Well, I keep myself busy with many activities. Bahkan kebanyakkan dari hari-hari tersebut, saya merasa jauh lebih lelah daripada aktivitas ngantor sebelumnya.

Selama sebulan, terlalu banyak hal yang saya pikirkan. Salah satunya adalah kearah mana sebenarnya saya mau melangkah. Asik ngobrol dengan kakak-kakak saya, saya pun yakin bahwa otak ini terlalu bersemangat untuk berputar lebih dari sekedar duduk di depan layar komputer. Saya merindukan masa-masa itu. Masa-masa kuliah dimana saya tak henti-hentinya menggunakan pikiran dan tubuh saya tak hanya untuk sekedar belajar, tetapi juga menciptakan sesuatu. Berdiskusi dalam komunitas, menyampaikan ide, dan berstrategi. Ternyata, dibalik cita-cita saya sedari dulu, jadi penulis, saya memendam minat untuk bergerak di bidang event organizer. Membayangkan hari-hari sibuk dulu berhasil membuat saya senyum-senyum sendiri karena saya berhadapan dengan ratusan kemungkinan yang tidak bisa ditebak.

Di sisi lain, menulis juga merupakan suatu hal yang tidak bisa dilewatkan. Saya memang belum pernah mencetak prestasi di bidang ini, tak satupun cerita pendek yang saya kirimkan berhasil masuk media, tak pernah ikut lomba menulis bahkan tidak pernah hadir dalam seminar-seminar terkait dengan dunia literatur. Saya menulis tak pernah rapi, dalam arti tidak pernah membuat kerangka apapun dan membuat kalimat seenak-udel saja. Hanya laptop yang jadi saksi saya menulis. Tempat saya merangkai kata dan tentu saja melakukan aktifitas nge-blog ini. Dibandingkan dengan penulis hebat lainnya, saya tentu masih harus belajar banyak hal.

Walau tanpa prestasi dan menulis sesuka hati, rasanya ada yang aneh dengan hal ini. Saat saya menulis, entahlah, waktu jadi luar biasa cepat. Menulis pun jadi cara yang ampuh untuk mematikan bosan dan rasanya, mood saya jadi membaik setelah menghasilkan satu tulisan. Saat dulu saya masih ngantor dan muncul rasa bosan gak karuan, maka saya bergegas membuka microsoft word dan menulis. Walau ngga tau mau nulis apa, tapi rasanya hanya ingin menulis. Bisa dibilang, menulis jadi pelarian saya sampai akhirnya suka curi-curi waktu untuk menulis. Walaupun terkadang saya juga gak ngerti apa yang ditulis, yang pasti rasanya lega luar biasa.

Saya jadi bingung. Sedikit-sedikit pengen ber-event, tiba-tiba otak butuh media untuk menumpahkan kata-kata. Entah saya ini maunya apa.

Sejauh ini, menulis adalah hobi. Hobi yang berhasil membuat saya senyum-senyum setelah melakukannya dan memberikan rasa nyaman di dalam hati. Sebuah pertanyaan  kerap kali terngiang dalam benak saya: 

“Sebenarnya, ada apa sih dengan menulis?”

22:09 WIB
Kamar. Diiringi lagu dan rintik hujan

Thursday, May 23, 2013

Sebuah tulisan: Indah Dibalik Hujan


Aku terduduk merenung dengan secangkir kopi hangat di beranda kamar rumahku. Sudah kurang lebih tiga jam hujan turun dengan derasnya, seolah hadir melengkapi segala kegelisahan yang tengah berkecamuk dalam benak kecilku. Pandanganku kosong menatap sesuatu yang tak tampak di ujung batas garis pandang. Sesekali hujan yang turun terlihat seperti sedang menari karena dihembus angin. Sesekali pula senyumku hadir dan melesap dalam hitungan detik.

Di atas meja kecil disampingku, tergeletak ipod yang mengalunkan lagu “Quando, quando, quando” dari Michael Buble. Setelah satu tarikan nafas, akupun meneguk kopi hangat itu dan membiarkannya mengalir, menghangatkan tubuh yang sudah dibalut sweater kebesaran.

Tahukah kamu? Suasana itu adalah suasana yang sempurna atas apa yang dirasakan. Bisakah dibayangkan bahwa kini, aku sama dengan rintik air yang membasahi bumi saat ini. Terjatuh, terombang-ambing oleh angin saat hendak mencapai tanah air. Terlalu sama dengan yang lain sementara aku ingin menjadi rintik hujan yang berwarna-warni. Dan lihat pohon itu. Walaupun aku diombang-ambing angin, aku bersyukur bahwa aku masih berdiri dan belum sampai dititik kejatuhan. Seperti pohon tua itu, yang walaupun dihempas angin kencang, Ia masih berdiri gagah walau harus membiarkan beberapa daunnya gugur dan terbawa arus angin.

Hey, coba lihat langitnya! Mendung tak terkira. Kehilangan cahaya matahari sementara seolah tahu bahwa kini akupun tengah kehilangan cahaya yang serupa. Kupandangi pula anak kecil berkaki pincang di ujung komplek rumah ku yang buru-buru berlari pulang untuk mencari kehangatan dengan penuh perjuangan. Lamban, terseok-seok. Peluhnya menyatu dengan air hujan yang jatuh.Tak perduli sakit, yang Ia tahu Ia sampai di istana peristirahatannya.

Apa yang kulihat seolah mendeskripsikan hal-hal yang campur aduk dalam pikiranku kini. Tanpa arah. Berdiri di tempat. Terombang-ambing. Tak beridentitas.

Dan lihat! Hujan tiba-tiba saja berhenti. Si anak pincang menatap langit dan tersenyum senang. Pepohonan terlihat segar akibat sisa air seperti kristal diatas dedaunan. Matahari sedikit muncul dibalik awan yang perlahan-lahan membiru. Kopi hangat membawaku pada sebuah senyuman. Kalian tahu bagian paling indahnya? Selalu ada pelangi yang muncul setelah kelamnya suasanya hujan.



Meja kantor,
Selasa, 23 April 2013
11:33 AM

Sedikit cuap tentang Hari Bumi


Hari Bumi. Jika banyak orang mengatakan “selamat” saat Hari Bumi, saya lebih suka menjadikan Hari Bumi sebagai peringatan kepada seluruh manusia. Melihat kondisi alam bumi yang kini sudah tak sama lagi dengan dulu, tinggal tugas manusia lah untuk menjaganya semaksimal mungkin dengan kondisi yang ada sekarang sehingga tidak menjadi lebih buruk. Saya sih tidak muluk-muluk, let’s just start from the most simple things, sampah.

Sering terlihat betapa mudahnya orang-orang meletakkan bungkus permen atau tissue atau sampah kecil lainnya di sembarang tempat. Katanya, “ah..ini kan sampah kecil”. Dan kalau saja ada 1000 orang di Jakarta yang berpikiran sama, maka terkumpullah 1000 sampah kecil yang nyatanya jadi tidak ‘kecil’. Itu baru 1000, belum lagi lebih. Apalagi kalau di hitung se Indonesia. Okay, that’s just my simple thought.

Saya pun melakukan sedikit research di beberapa website mengenai hal ini. Menurut sebuah artikel di Okezone.com yang muncul pada tahun 2012, disebutkan bahwa kira-kira jumlah sampah di Jakarta mencapai 6.500 ton per hari. Sementara di artikel lainnya, disebutkan bahwa masih ada sekitar 2000 M3 sampah yang belum terangkut di Jakarta. Bahkan disebutkan bahwa kira-kira penduduk Jakarta bisa membangun 1 candi borobudur dari sampah setiap 2 hari. Jadi, tak heran jika Jakarta mengalami masalah dengan kebanjiran dengan salah satu penyebabnya, sampah.

Melihat kondisi Jakarta yang seringkali banjir di musim hujan, saya pun tidak menanggapinya secara repot. Bagi saya, banjir di Jakarta itu adalah kombinasi antara daerah serapan yang kurang akibat pembangunan, tata kota yang kurang rapi dan (lagi-lagi) sampah. Maka, saya sebagai warga semaksimal mungkin menjaganya dengan tidak membuang sampah sembarangan. Kalau pemikiran di paragraf atas kita putar balikkan, ada 1000 orang di Jakarta yang berpikiran sama dengan saya, mudah-mudahan Jakarta jadi lebih terjaga dan terbebas dari sampah.

So, jadikan Hari Bumi sebagai media instrospeksi terutama warga Jakarta untuk lebih sadar dan peduli terhadap lingkungan. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, mari kita mulai dari membuang sampah pada tempatnya!

*cheers!

Sarita :)

Sebuah kutipan dari Moammar Emka :)


Dear you, cinta dan kejatuhannya

Jatuh cinta dan patah hati itu memang pasangan serasi.

Ketika kita jatuh karena patah hati, 
cinta menautkannya kembali.

Ketika jatuh dan patah, 
bersyukurlah kita masih punya cinta dan hati.

Ketika kita tak punya cinta dan hati, 
bersiaplah untuk jatuh dan patah.

Cinta tanpa hati, tak mungkin. 
Pasti jatuh dan patah sebelum waktunya.

Cinta dengan hati meniadakan kejatuhan dan patahnya fondasi kebersamaan.

Cinta dan hati lah pasangan sejati.


*A write from Dear You - Moammar Emka*


Friday, February 15, 2013

"percaya - gak percaya"

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya manusia memang tak pernah luput dari kata ‘percaya-gak percaya’. Contohnya, saat kita bertanya apa apa kamu percaya hantu? Beberapa akan menjawab “ya…percaya-gak percaya sih”. Atau mungkin saat suku Maya meramalkan bahwa tanggal 21 Desember 2012 kemarin adalah akhir dari dunia, beberapa orang juga menjawab “percaya-gak percaya”. Begitupun jika kita bicara tentang topik lainnya seperti reinkarnasi atau mati suri.

Tulisan saya kali ini masih seputar tentang “percaya-gak percaya”. Sedikit berbeda dengan yang di atas, yang berikutnya akan saya ceritakan ialah apa yang saya alami. Tentang bagaimana manusia percaya dengan manusia lainnya dan ketidakpercayaan. Mungkin saja kalian, para pembaca, pernah mengalami hal yang sama.

Malam itu, saya merasa lelah luar biasa setelah akhirnya sampai kembali di Jakarta sepulangnya dari puncak untuk acara field trip paduan suara kampus. Karena faktor lelah, barang bawaan yang banyak dan waktu yang sudah memasuki pukul 7 malam, saya pun memutuskan untuk pulang naik taksi dari kampus untuk alas an keamanan jika dibandingkan dengan naik bis. Kebayang harus naik turun bis, di terminal seorang diri, bawa-bawa gitar dan ransel. Saya pun memberhentikan taksi yang dikenal orang dengan kualitas keamanan yang baik di depan kampus.

Terlepas dari pemikiran negatif akan banyaknya kasus kriminal yang terkait dengan angkutan umum baik setara angkot ataupun taksi, saya pun dengan tenang naik taksi dan segera menghafal nomor taksi tersebut (untuk berjaga-jaga). Di perjalanan, saat saya hampir terlelap, supir taksi pun membuka pembicaraan. Cerita si supir taksi diawali dengan kasus penipuan yang ia alami. Menurut ceritanya, hari itu si supir taksi baru saja ditipu seorang wanita. Wanita yang merupakan seorang penumpang berhenti di suatu tempat dan bilang ke supir taksi untuk tunggu karena Ia mau pergi ke toilet sebentar. Percayalah si supir taksi karena wanita tersebut meninggalkan clutch bag-nya di dalam taksi. Si supir taksi pun menunggu hingga 1 jam, tapi si penumpang tak kunjung kembali. Seseorang pun berkata pada supir taksi untuk cek dompet yang ditinggalkan. Begitu dibuka, ternyata dompet tersebut kosong tak berisi sama sekali. Kasihan si supir taksi, harus menutupi kekurangan biaya tersebut yang kurang lebih 50ribuan.

Cerita tersebut mengawali cerita masa lalu si supir taksi. Bahwa dulu supir taksi itu ialah seorang supir angkot yang kemudian memutuskan untuk jadi supir taksi karena ingin merubah nasib. Katanya uang penghasilan jadi supir taksi jauh lebih baik daripada jadi tukang angkot. Ceritapun merembet tentang bagaimana pengalaman pak supir taksi tentang pencopet-pencopet di angkot selama Ia jadi supir angkot. Dengan penuh minat saya menyimak cerita supir taksi tersebut karena saya pun sudah kuranglebih 5 kali jadi korban baik pencopetan atau penodongan di angkot. Saya pun simpati bahwa ternyata, dibalik seluruh kisah kriminalitas supir angkutan, ternyata bapak supir yang satu ini bukan seperti supir lainnya yang saya banyak dengar di berita-berita.

Sesampailah dirumah, ceritalah saya dengan orang rumah dengan kisah bapak supir taksi yang baik hati namun naas karena ditipu penumpang. Tetapi apa reaksinya? “Hati-hati, yang kaya gitu ntar Cuma buat ambil simpati aja tuh supaya dikasih uang lebih”. Saya pun bingung total dan bertanya-tanya dalam benak saya. Bagaimana bisa supir taksi yang baik hati ternyata justru malah membawa kecurigaan bagi orang lain?

Cerita saya diatas merupakan sebuah fakta bahwa pada kenyataannya terkadang sulit bagi manusia untuk saling mempercayai satu sama lain. Tetapi bagi saya, bukannya tidak waspada, sebisa mungkin hindari pikiran-pikiran negatif. Bagaimana relasi antar manusia bisa berjalan dengan baik jika tidak ada rasa kepercayaan satu sama lain? Saya tidak tahu apakah kamu setuju dengan saya bahwa si supir taksi baik hati itu memang sedang apes atau bahkan kamu lebih memilih berpendapat bahwa itu hanya akalan si supir taksi untuk mengambil simpati orang lain. Yang pasti, menurut saya, basic harmonisasi kehidupan antara manusia didukung (salah satunya) oleh factor kepercayaan.

Saya bisa membayangkan, bagaimana jika kita hidup sebagai manusia namun penuh akan kecurigaan terhadap orang lain? Menurut saya, hal itu justru hanya menyiksa ketentraman diri saya sendiri saja. Mau naik angkot, lirik orang sekitar bawaannya curiga, was was dan cemas. Naik taksi, bis atau ojek jadi deg-deg an karena takut dibawa kabur. Ke supermarket seorang diri jadi lirik kiri-kanan karena takut tiba-tiba disergap dari belakang. Pemikiran-pemikiran seperti itu yang menurut saya justru menyiksa diri sendiri dan malah akan memancing terjadinya hal tersebut pada diri kita.

Akan lebih menyenangkan jika kita berpositif ria. Waspada itu memang perlu, tetapi bukan berarti waspada membawa kita pada pemikiran-pemikiran negatif tentang orang lain yang bahkan kita sendiri belum kenal.

So, selamat ber-positif ria dan tetap waspada! :D

*cheers,

Sarita


Monday, July 23, 2012

Napak Tilas di Hari Anak Nasional

Melihat masa kini dan kemudian mundur kira-kira 14 tahun yang lalu, saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar, begitu banyak hal yang telah berubah terutama dalam kehidupan anak-anak. Luar biasa canggihnya generasi anak zaman sekarang dengan segala kemudahan teknologi. Bahkan, keponakkan saya yang masih berusia 2 tahun saja sudah gemar menggenggam tablet dan bermain angry bird. Tetapi, kali ini saya tidak akan mengupas kehidupan anak zaman sekarang, melainkan lebih kepada mundur sebanyak 14 tahun yang lalu dan mengenang indahnya hidup anak kecil di era 90an. Tulisan ini hanyalah sekedar tulisan hiburan untuk bernostalgia terkait dengan hari ini yang bertepatan dengan hari anak nasional.

Postingan kali ini penuh hiburan. Jadi, mari kita nostalgia bareng-bareng, nyanyi bareng-bareng dan flashback bareng-bareng. Enjoy!


TOP 5 kartun favorit saya tahun 90an:

1. HONEY BEE HUTCH


 


2. SAILOR MOON



3. WEDDING PEACH


4. DORAEMON

 

5. KAPTEN TSUBASA








TOP 5 TONTONAN NON-KARTUN:

1. AMIGOS X SIEMPRE


2. KERA SAKTI


3. CAR RANGER

 
4. CILUKBA

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhO3PIeKl3rAQGBVPUXYUoxjHLKSOhLX_XCKcFTILBTwl3tzWW6FoWjufYs6OF705j4g-qaBrVJrVAHPA1nVK8fCn9D7wwinTDg2Axfvw2GxF5VnMItAuFoKPS9mtdGzlIJY16Zz79WBw/s1600/Maissy+Ci+Luk+Ba.jpg

5. TRALALA-TRILILI


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjQTNXI73vhvxGYQl_1IHEVf_zV072lyqGmk_MVeEdUL78CZOecs5yyG9OqLXeqWYfQ8dqdj9JiL6K4N8SUp0znm8XTi6yVCJOer8I3DxZV8Kq8xnYfMKa_QuZjoZZ3E99mSDKfPqpBOv8/s1600/img_110782_tralala-trilili-rcti-opening-1998.jpg


Selain saya menyebut top 5 acara kartun dan non kartun favorit saya semasa kecil, berikut juga top 5 lagu anak-anak favorit saya. Let's sing it together! :D

TOP 5 LAGU ANAK-ANAK:

1. DI OBOK-OBOK


2. ANDAI AKU BESAR NANTI

3. KUTAKUT MAMAKU MARAH


4. ANAK GEMBALA



5. KATANYA


Saya masih ingat jelas bagaimana saya enggan beranjak dari depan televisi demi episode per episode dari Sailor Moon ataupun Wedding Peach. Air mata saya tumpah tiap nonton honey bee hutch. Masing inget juga betapa senengnya kalau cilukba atau tralala trilili udah dimulai. Papa pun selalu nyanyi lagu Air dari Joshua karena tahu saya suka banget sama lagu itu waktu kecil. Hahaha.

Bisa dibilang, saat saya masih anak-anak, saya tidak merasakan kurang hiburan. Hiburan yang ada pada saat itu ialah hiburan yang memang tepat untuk anak-anak. Saya cukup sedih saat melihat anak kecil perempuan lebih suka liat-liat sepatu wedges untuk anak-anak di mall ketimbang beli tongkat ala wedding peach dan sailor moon. Well, no hard feeling. Saya menulis kali ini untuk bersenang-senang. Semoga kalian yang baca ikut senang yaaa..walaupun mungkin punya top 5 versi masing-masing (n_n)

Sunday, July 22, 2012

Indonesian Day di Arizona State University

Rasa nasionalis atau kecintaan kita terhadap Indonesia bisa dengan mudah dilihat saat Indonesia tengah berlaga di kompetisi-kompetisi tingkat internasional seperti AFF atau Uber-Thomas Cup. Kalau Indonesia tengah berlaga, saya merasakan aura yang berbeda karena mendadak seluruh warga memilih untuk menghabiskan waktu menonton pertandingan, menggunakan baju merah timnas di tempat umum, bahkan jumlah supporter yang luar biasa penuhnya saat saya menyaksikan pertandingan final AFF yang lalu di Gelora Bung Karno, Jakarta. Berada di tengah lautan merah putih dalam stadion, rasanya istimewa. Luar biasa. Apalagi saat menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama. Lantangnya luar biasa. Tetapi, begitu pertandingan berakhir, orang-orang kembali pada kesibukkan masing-masing. Perlahan aura nasionalis itu memudar. Sebenarnya nasionalis yang dirasakan itu memang hanya sekedar kalau sedang berprestasi saja, atau memang ada di dalam diri kita?

Bagi saya, nasionalis muncul saat saya berada di negeri orang. Saat saya dan 19 teman lainnya mendapatkan kesempatan belajar di Arizona, US, merupakan pengalaman tak terlupakan. Selain saya mendapatkan ilmu tentang Amerika, waktu yang saya habiskan disana membuat saya kemudian menyadari bahwa Indonesia adalah negara yang luar biasa. Saya memang tidak membawa keterampilan tarian, permainan alat musik tradisional ataupun keterampilan khas Indonesia lainnya. Sejujurnya, sebelum saya menjejakkan kaki di Arizona, saya sama hal nya dengan masyarakat lain yang antusias saat Indonesia berprestasi kemudian masa bodoh setelah hal itu berlalu. Namun, pengalaman ini membuat saya kemudian mendadak jatuh cinta pada negara ini. Terlepas dari segala kekurangannya, saat saya berada di negeri orang, kangen luar biasa sama Indonesia rasanya susah unuk ditahan. Mungkin perasaan ini juga dirasakan oleh ratusan bahkan ribuan orang Indonesia lainnya yang pernah atau sedang berada di luar negeri.

Saya dan 19 orang-orang luar biasa lainnya merancang pembuatan Indonesian Day sejak dari sebelum keberangkatan kami ke Arizona. Jujur (lagi), awalnya saya menjadikan Indonesia Day ini sebagai tradisi karena melihat angkatan sebelumnya membuat kegiatan yang sama. Melihat teman-teman lainnya siap dengan keterampilan khas Indonesia nya, saya cukup minder melihat saya tidak membawa keterampilan apapun. Lantas, satu-satunya keterampilan yang saya bawa ialah keterampilan organisasi. Saya pun dipercaya teman-teman dan kemudian berkontribusi dalam kegiatan ini sebagai event coordinator.

Indonesian Day merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk memperkenalkan kayanya Indonesia akan keanekaragaman. Hal ini didukung dengan anak-anak yang berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia; Barat, Tengah, dan Timur. Sedemikian rupa kami ber-20 merancang kegiatan ini didukung dan dibantu oleh Permias (Indonesia Student Association). Kami saling berbagi tugas dan yang paling penting berlatih tiada henti. Keinginan kami untuk menampilkan yang terbaik membuat kami terpacu untuk berlatih. Tidak ada perjalanan yang tak berbatu. Well,pembuatan acara ini berjalan tidak mulus. Hambatan secara teknis ataupun sedikit slek disana-sini menjadi hal yang wajar dan saya rasa terjadi di setiap proses pembuatan suatu acara. Namun pada akhirnya acara ini dapat dilaksanakan dan masalah-masalah tersebut perlahan-lahan terselesaikan. Secara resmi, acara ini pun dilaksanakan di Farmer Education Building Arizona State University pada tanggal 20 April 2012.


Kegiatan ini dilaksanakan dengan beragam pertunjukkan dari mulai tarian, nyanyian, fashion show hingga lomba-lomba 17-an. Tarian yang ditampilkan antara lain: Tari Topeng, Tari Indang dan Tari Cakaiba. Selain tarian, adapun lagu-lagu tradisional berbahasa daerah antara lain: seroja, rek ayo rek, dan yamko rambe yamko. Lomba-lomba yang kami selenggarakan ialah lomba-lomba 17-an yaitu lomba makan kerupuk dan lomba sendok kelereng. Tak lupa adanya penampilan pencak silat dan perkenalan budaya Indonesia dalam sesi fashion show yang menampilkan 20 peraih beasiswa dari Indonesia dengan menggunakan 20 baju adat yang berbeda, merepresentasikan daerah masing-masing. Fashion show ini lengkap dengan adanya iringan lagu daerah dengan slide show mengenai keistimewaan daerah masing-masing.

Bagi saya, keindahan yang luar biasa terletak pada saat kami menyanyikan Indonesia Raya. Perasaan saya saat itu campur aduk. Bahagia, bersyukur, terharu, dan bangga dalam waktu yang bersamaan. Saya,masih dengan amat jelas, melihat kurang lebih 150 audience yang terdiri dari orang-orang Indonesia di Arizona dan tamu asing yang terdiri dari guru, staf dari AECP, hostfamily ataupun mahasiswa ASU lain. Masih jelas saya bisa melihat orang-orang Indonesia berdiri dengan gagah dan ikut bernyanyi bersama kami dengan lantang. Khidmatnya luar biasa, keheningan pecah akan kata dalam irama lagu Indonesia Raya ditengah gedung Farmer Education yang semi-outdoor. Saya rasa, disitulah titik dimana kemudian saya jatuh cinta luar biasa pada Indonesia. Bisa jadi, hal ini juga terjadi pada 19 sahabat lainnya juga.

Momen luar biasa lainnya ada pada saat penutupan, yaitu lagu Indonesia Jaya. Saat perancangan acara, saya bersemangat menyarankan untuk menyanyikan lagu ini kepada teman-teman lain. Kenapa? Karena saya bisa merasakan indahnya lagu ini setiap kali saya dan teman-teman paduan suara di kampus menyanyikan lagu ini. Simpel, saya ingin menampilkan keindahan yang sama di dunia internasional. Benar saja, walaupun tidak ada pembagian suara dan tidak didukung teknik vokal yang istimewa, penampilan saat itu tidak kalah indah dengan tampil bersama paduan suara. Susah payah saya menahan rasa terharu setiap kami berlatih lagu ini di sela-sela kesibukkan belajar di Arizona State University. Lagu ini mengingatkan saya untuk kembali bersyukur dan bersyukur. Bersyukur bahwa saya mendapatkan kesempatan emas ini, bersyukur bahwa saya berhasil menginjak tanah Amerika, bersyukur bahwa saya orang Indonesia...

Melihat penghayatan dan kesungguhan teman-teman berlatih setiap hari, we've been through a lot together. Pada akhirnya, di tengah keanekaragaman, di akhir acara ini, dengan alunan gitar akustik, bersama-sama kami bernyanyi lagu Indonesia Jaya dengan segenap hati dan bergandengan tangan. Luar biasa rasanya saya melihat 20 orang dengan 20 kostum yang berbeda tengah bergandengan tangan dan berbaur jadi satu. Dengan jelaspun saya melihat satu persatu wajah warga Indonesia lainnya yang menetap di Arizona melepaskan senyum simpul dan menyiratkan ekspresi "Saya orang Indonesia dan bangga akan hal itu".

Selepas acara, kami melakukan evaluasi singkat. Evaluasi berlangsung cukup emosional namun pada akhirnya itu menjadi titik bahwa kami jadi lebih menyatu dan memahami antara satu dan yang lainnya. Terlebih, seusai evaluasi, kami mendapatkan begitu banyak respon positif atas kegiatan tersebut dan senang rasanya melihat bahwa kini semakin banyak orang asing yang 'menyadari' kehadiran Indonesia dengan keanekaragaman dan keindahan.

Berikut adalah foto-foto yang menggambarkan suasana berlangsungnya acara pada saat itu:

 Latihan tiada henti, dimanapun, kapanpun ;)

 Tari Topeng

Pencak Silat Asad



Tari Cakaiba 

Tari Indang

Lomba makan kerupuk

Lomba balap sendok kelereng

Kemeriahan penutupan acara

Saya pun kini menganggap Indonesian Day ini tidak lagi sebagai suatu tradisi sebagai peraih beasiswa IELSP. Tetapi, lebih kepada kesadaran bahwa  Indonesia adalah negara yang kaya dan beragam. Kegiatan ini menjadi kontribusi kami kepada tanah air, Indonesia. Respon positif dari para pengunjung membuat kami merasa bahagia dan bangga karena telah memperkenalkan apa yang Indonesia miliki di dunia internasional. 

Terima kasih saya ucapkan pada tim kami yang luar biasa, yang terdiri atas 20 anak muda Indonesia. Terima kasih pada permias, keluarga besar Indonesia di Arizona, Amy (koordinator kelompok kami), dan seluruh pihak terkait yang membantu berlangsungnya acara hingga selesai. Terima kasih pada seluruh penonton yang hadir dan menikmati suguhan sederhana selama 2 jam yang sarat akan nilai budaya. Mudah-mudahan kegiatan ini mampu menginspirasi anak muda Indonesia lainnya atau siapapun yang mampir dan membaca tulisan ini. 

Mari lestarikan kembali budaya Indonesia.
'Masak' hingga matang budayanya. 
'Suguhkan' baik secara domestik atau internasional.
Bersiap untuk jatuh cinta (kembali) dan terus cinta ditengah keragaman dan perbedaan :)
Here I am, write and share :D

Sarita